islam
Showing posts with label Artikel Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Ramadhan. Show all posts

Idulfitri Antara Ibadah dan Tradisi


Oleh Maksun Faiz

SEBULAN lamanya umat Islam melaksanakan puasa, suatu ibadah yang mempunyai nilai kekhususan di hadapan Allah jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk ibadah lain (hadist Qudsi). Puasa ini selain disebut sebagai ibadah syakhsiyyah (pribadional) yang lebih menitikberatkan pada hubungan vertikal, antara Allah dengan hamba-Nya yang beriman, derajat pahalanya juga tidak pernah ditampakkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Allah hanya memberikan sinyal ketakwaan saja bagi mereka (mukmin) yang melaksanakannya dengan baik.

Dari intisari pemahaman surat Al-Baqarah ayat 183, yang dijadikan landasan hukum kewajiban puasa Ramadhan, Allah tidak menunjukkan secara langsung berapa dan apa imbalan (pahala) bagi mukmin yang telah sukses melaksanakan puasa. Yang Allah tampilkan adalah pernyataan la'allakum tattaqun (mudah-mudahan kamu sekalian termasuk orang-orang yang bertakwa). Dari ungkapan ayat tersebut, terkandung nilai motivatif bagi umat Islam untuk berlomba mencari kebaikan maksimal dihadapan Allah. Ibarat seorang pekerja yang tidak pernah diberi tahu kepastian upahnya oleh sang majikan, pasti mereka akan berlomba berbuat yang terbaik demi prestasi dan tingginya upah.

Predikat takwa hanya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman karena kesempurnaannya di dalam menjalankan puasa. Itulah yang membuat umat Islam semakin terangsang untuk berlomba beribadah pada bulan Ramadhan, apalagi rangsangan itu bukan sekadar berpusara pada keutamaan ibadah puasa saja, tapi lebih jauh dari itu adalah kebesaran bulan Ramadhan yang disebut sebagai sayyid al-Syuhur atau tuannya bulan dari segala bulan.

Ramadhan disebut sebagai tuannya bulan atau bulan yang mulia, karena pada bulan itu Allah telah membuka bursa pahala dan menutup pintu dosa. Pada bulan Ramadhan juga telah terjadi minimal lima keistimewaan yang monumental, antara lain: (1) puasa wajib sebulan penuh, sedangkan pada bulan-bulan di luar Ramadhan tidak ada puasa wajib kecuali puasa nadzar, puasa kifarat sumpah, dan puasa kifarat bersenggama pada siang Ramadhan, (2) Shalat Tarawih, (3) Lailatul Qadar, lebih dikenal sebagai malam turunnya Al-Quran yang nilai keutamaannya lebih agung dari ibadah 1.000 bulan, (4) Zakat Fitrah, sebagai penghantar pahala
puasa ke haribaan Allah, dan (5) semua kitab suci dari Allah turun pada bulan Ramadhan.

Maka, sangatlah beruntung bagi mereka yang mampu melaksanakan ibadah pada bulan suci secara maksimal tanpa sedikit pun cacat.

Tradisi awal

Adalah merupakan suatu keberuntungan yang patut dirayakan oleh umat Islam, jika sebulan lamanya mampu mengukir prestasi ibadah dengan gemilang. Kegemilangan itu akan lebih menjurus pada citra fitri, jika umat Islam yang beriman secara ikhlas mengeluarkan zakat fitrah sebagai unsur kelengkapan ibadah puasa yang dilaksanakan selambat-lambatnya sebelum berangkat menunaikan shalat 'Id pada tanggal 1 Syawal.

Tradisi penyambutan hari raya 1 Syawal, yang dianggap sebagai hari kemenangan bagi umat Islam, sebenarnya telah dimulai sejak zaman Arab purba. Orang Arab purba merayakan pesta pada setiap tanggal 1 Syawal dengan aneka ragam permainan. Tradisi itu menurut Imam Thabari berlangsung terus sampai hijrah Nabi ke Madinah.

Menurut penuturan hadist Shahih Bukhari, bahwa pada suatu hari raya,Rasulullah SAW dan isteri beliau, Aisyah ra., menyaksikan tari-tarian perang, ketangkasan panah-memanah dan menunggang kuda di halaman mesjid yang dilakukan oleh serombongan Arab Sudan yang lebih terkenal dengan Bani Arfidah. Dan Rasulullah tidak berkomentar apa-apa mengenai pertunjukan yang sudah menjadi kebiasaan mereka bila menyambut hari raya.

Pada hari raya yang lain, menurut hadist Shahih Bukhari, di rumah Rasulullah terdengar dua orang wanita menyanyi. Abu Bakar melarangnya dengan mengatakan "Seruling setan di sisi Nabi", akan tetapi Rasulullah membiarkannya, mengingat waktu itu adalah hari raya.

Namun dalam kesempatan yang lain, di mana pada waktu Rasulullah berkunjung ke Madinah, beliau menjumpai ahli Madinah yang telah mempunyai kebiasaan dua hari untuk bermain-main. Seketika itu pula Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kamu dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha". Dari cuplikan hadist yang diriwayatkan Al-Nasa'i dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih itu, telah tergambar dengan jelas adanya upaya untuk membedakan cara dan sikap mereka menghadapi hari raya. Maka Rasulullah menganjurkan kepada umat Islam Madinah supaya hari itu diisi dengan memperbanyak dzikir, menegakkan (melaksanakan) shalat 'Id dan memperbanyak amal baik lainnya.

Ada dua sikap yang merupakan paradigma pemikiran Rasulullah yang terkesan kontradiktif, yakni sikap Rasulullah yang kooperatif (membiarkan) terhadap tradisi Arab pada umumnya di saat merayakan 1 Syawal (Idul Fitri), dan mengritik kebiasaan orang-orang Madinah dengan memberikan solusi alternatif yang lebih positif dan bernuansa ibadah.

Hakikat Idul Fitri

Ibadah puasa selama satu bulan sesungguhnya merupakan suatu training (latihan) yang tinggi bagi mental dan fisik manusia. Ia juga merupakan gelanggang perjuangan yang maha hebat untuk mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu yang menjadi sumber kebinasaan manusia. Dan yang utama, puasa merupakan batu ujian ketaatan manusia kepada Tuhannya. Karena itulah puasa membuat suatu kristalisasi di antara mereka yang mengaku dirinya muslim dan beriman. Kristalisasi antara yang asli dan imitasi.

Oleh sebab itu, Tuhan menciptakan hari raya 'Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal sebagai hari pesta pora kemenangan dan saat syukuran yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan puasa dengan penuh kesempurnaan. Hari di mana manusia kembali kepada fitrah asalnya yang tidak punya dosa dan noda, bak seorang orok yang baru lahir dari kandungan ibunya. Lahir dengan wajah dan mental baru, menjadi manusia yang berwatak dengan jiwa tauhid yang tinggi. Itulah makna kalimat: Hari Raya Fitrah, min al-'Aidin wa al-Faidzin.

Paradigma pemikiran Rasulullah SAW tersebut di atas yang terkesan kontradiktif, justru merupakan sikap bijak yang diterapkannya di saat menghadapi dua bentuk masyarakat yang kualitas keimanannya tidak sama. Terhadap orang Arab yang kualitas keimanannya masih relatif rendah (mua'allaf) Rasulullah bersikap pasif, agar tidak terjadi gejolak pada mental mereka secara drastis. Namun, terhadap orang Madinah yang lebih kuat imannya, Rasulullah secara tegas menegurnya.

Dari sikap Rasulullah SAW tersebut dapat dianalisis, bahwa pada hari raya Idul Fitri (1 Syawal) itu hendaklah seluruh potensi umat Islam dikerahkan untuk menyambut hari kebahagiaan itu dengan segala kekhidmatan. Ia harus disambut bukan dengan cara membakar petasan, bersukaria di tempat-tempat pesta maupun pesiar, makan yang berlebihan, dan berlomba dalam hal kemewahan duniawi yang lebih terkesan konsumtif dan pleonastis (mubadzir) itu, tetapi ia harus disambut dengan mengagungkan asma Tuhan, mengumandangkan takbir, melaksanakan shalat 'Id yang khusyuk dan dengan khutbah yang menyeru manusia bertakwa, beramal membantu kaum melarat, utamanya dengan membayar zakat fitrah. Untuk lebih menyempurnakan suasana penyambutan hari raya (1 Syawal), maka sebelum datang menghadiri shalat 'Id, kita dianjurkan (sunnah) mandi dahulu, memakai pakaian yang baik lagi
bersih dan memakai wewangian.

Untuk lebih menciptakan suasana ukhuwah, maka ada beberapa bentuk tradisi khazanah Indonesia yang bermuatan ibadah yang masih perlu dipertahankan, seperti: tradisi ziarah ke makam guna mendoakan leluhur yang telah mendahului, tradisi berkunjung dari rumah ke rumah (silaturrahim), mengunjungi rumah fakir miskin dan yatim piatu dengan membawa sedekah, ber-halal bihalal, dan masih banyak lagi tradisi 1 Syawal yang positif dan bernilai ibadah yang masih perlu dipertahankan.

Halal bihalal

Di antara bentuk tradisi yang sarat akan muatan nilai ibadah adalah halal bihalal. Di dalam al-Quran maupun al-Sunnah, kita tidak menemukan suatu penjelasan tentang arti halal bihalal. Istilah tersebut memang khas Indonesia, bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan non-Indonesia, walaupun yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Secara definitif, istilah halal bihalal dapat memberikan tiga arti yang berbeda. Dari segi hukum, maka kata halal adalah lawan kata haram. Halal yang dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal, akan memberikan kesan bahwa dengan cara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dari segi linguistik, kata halal terambil dari akar kata halla atau halal yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai dengan rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain: menyelesaikan problem atau kesulitan, meluruskan benang kusut, mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu. Dengan demikian, makna halal bihalal dalam tinjauan ini seakan-akan kita menginginkan adanya sesuatu yang mengubah hubungan kita dari yang tadinya keruh menjadi jernih, dari yang beku menjadi cair, dan dari yang terikat
menjadi terlepas atau bebas, walaupun kesemua yang disebut di atas belum tentu haram.

Arti yang ketiga adalah dari tinjauan Qurani serta kesan-kesan penggunaan kata halal dalam Al-Quran. Dari segi ini, dapat disimpulkan bahwa halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Quran menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap muslim harus merupakan sesuatu
baik lagi menyenangkan.

Dari beberapa pengertian di atas, maka halal bihalal (silaturrahim) menuntut upaya maaf-memaafkan. Kata maaf, yang berasal dari Al-Qur'an al-'afwu, berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Artinya, bukanlah memaafkan namanya manakala masih tersisa bekas luka itu di hatinya, bila masih ada dendam yang membara.

Itu sebabnya - berdasarkan teks-teks keagamaan -, para pakar hukum menuntut dari seseorang yang memohon maaf dari orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya, baik berupa materi maupun immateri.

Secara praktis, hal itu memang akan sulit dilakukan oleh seseorang yang telah berbuat kesalahan. Artinya, manakala seseorang yang berbuat kesalahan itu telah menyampaikan kata maaf, mungkin bukannya maaf yang diterima, namun justru kemarahan dan putus hubungan. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah doa: "Ya Allah sesungguhnya aku memiliki dosa pada-Mu dan dosa yang kulakukan pada mahluk-Mu. Aku bermohon ya Allah agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan pada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan pada mahluk-Mu".

Sebenarnya, di dalam Al-Quran terdapat peringkat yang lebih tinggi dari al-'afwu, yakni al-safhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan dari sesuatu. Darinya dibentuk kata safhat yang berarti lembaran atau halaman, serta musafahat yang berarti berjabat tangan. Ini berarti, seseorang yang melakukan al-safhu, dituntut untuk "melapangkan dadanya" sehingga mampu menanggung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Menurut Al-Raghib Al-Asfahany - seorang pakar bahasa Arab dan Al-Quran -, bahwa al-safhu yang diilustrasikan dengan berjabat tangan itu "lebih tinggi nilainya" dari pada memaafkan. Agaknya benar juga pandangannya itu. Bukankah masih mungkin ada satu-dua titik yang sulit bersih pada lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus? Atau, bukankah lembaran yang telah ternodai walaupun telah bersih kembali tidak dapat sama dengan lembaran baru?

Karenanya, di hari Idul Fitri ini bukalah lembaran baru dan tutup lembaran lama. Wujudkan sikap ihsan, karena yang demikianlah yang paling disukai oleh Allah. Demikianlah, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1417 H.

(Drs Maksun Faiz, staf Pengajar pada Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo di Semarang, Jawa Tengah.)

FADHILAT PUASA-PUASA SUNNAT SEPANJANG TAHUN


1. Puasa enam hari dalam bulan Syawal

Fadhilat atau keutamaannya sangat besar sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud: "Sesiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diiringi dengan puasa (sunnat) enam hari dalam bulan Syawal adalah seperti puasa selama setahun." (Riwayat Muslim)

Cara melakukannya yang terbaik (afdal) secara berturut-turut dan dimulakan pada hari kedua bulan Syawal, tetapi boleh dan sah dengan tidak berturut-turut, misalnya sehari puasa dua hari tidak, kemudian puasa lagi, asalkan genap enam hari didalam bulan Syawal. Malah sesetengah ulama mengharuskan puasa enam hari dalam bulan Syawal diniatkan berserta puasa qadha Ramadhan.

2. Puasa hari 'Arafah (9 Zulhijjah)

Disunatkan kepada orang yang tidak melakukan ibadah haji. Fadhilatnya sangat besar sebagaimana dijelaskan menerusi hadith daripada Abi Qatadah r.a. ujurnya, Rasullullah s.a.w. telah ditanya oleh sahabat mengenai puasa hari 'Arafah, sabdanya bermaksud: "Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan tahun-tahun kemudiannya." (Riwayatkan oleh Muslim dan al-Turmuzi)

Menerusi hadith daripada Abi Qatadah r.a. juga bahawa Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Puasa pada hari 'Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun yang lalu dan tahun yang akan datanag." (Diriwayat oleh Muslim)

3.Puasa pada bulan Muharram

Daripada Abi Hurairah r.a. katanya, telah bersabda Rasullullah s.a.w. yang maksudnya: "Seafdal-afdal puasa selepas Ramadhan ialah puasa pada bulan Allah iaitu bulan Muharram dan seafdal-afdal solat selepas solat fardhu ialah solat malam." (Riwayat Muslim)

Daripada Ibu 'Abbas r.a. katanya, telah bersabda Rasullullah s.a.w. maksudnya: "Sesiapa berpuasa pada hari 'Arafah nescaya terhapus dosanya dua tahun dan sesiapa berpuasa satu hari daripada bulan Muharram maka untuknya setiap sehari (mendapat pahala) 30 hari." (Dikeluarkan oleh al-Tabrani)

4.Puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram)

Daripada Abi Qatadah r.a. bahawasanya Rasullullah s.a.w. telah ditanya mengenai puasa hari 'Asyura (yakni hari ke-10 bulan Muharram) maka sabda Baginda s.a.w. yang bermaksud: "Ia akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (Riwayat Muslim)

5.Puasa hari Tasu'a (Tanggal 9 Muharram)

Ia disunatkan, namun Rasullullah s.a.w. belum sempat mengerjakannya, bagaimanapun Baginda s.a.w. bersabda maksudnya: "Sesungguhnya jika aku hidup pada tahun hadapan, aku akan berpuasa pada 9 Muharra." (Riwayat Ahmad dan Muslim)

PERINGATAN

Puasa sunnat pada hari ke-10 Muharram hendaklah digabungkan dengan hari sebelumnya iaitu pada hari ke-9 atau dengan hari selepasnya (yakni hari ke-11) dan lebih baik lagi dikerjakan tiga hari berturut-turut iaitu ke-9,ke-10 dan ke-11. Jika ditunggalkan 10 Muharram sahaja maka hukumnya makruh kerana menyerupai amalan orang Yahudi.

Sabda Nabi Muhammad s.a.w yang bermaksud: "Berpuasalah pada hari 'Asyura (10 Muharram) dan jangalah menyamai perbuatan orang Yahudi; oleh itu berpuasalah sehari sebelum dan sehari sesudahnya." (Riwayat Imam Ahmad)

6.Puasa bulan Sya'aban

Daripada Usamah bin Zaid r.a. katanya, aku berkata: "Wahai Rasullullah, tidak saya lihat tuan hamba berpuasa satu bulan daripada bulan-bulan (dalam setahun selain Ramadhan) seperti tuan berpuasa pada bulan Sya'aban." Sabda Rasullullah s.a.w.: "Bulan ini (yakni bulan Sya'aban) ialah bulan yang manusia lalai padanya antara Rajab dan Ramadhan, pada hal ia (yakni bulan Sya'aban) adalah bulan diangkat amalan kepada Tuhan seru sekelian alam, maka aku suka amalanku diangkat dan aku berpuasa." (Riwayat al-Nasai)

Ummu Salamah r.a. pula berkata: "Tidak pernah aku lihat Rasullullah s.a.w. berpuasa dua bulan berturut-turut melainkan pada bulan Sya'aban dan Ramadhan." (Riwayat al-Turmuzi)

7.Puasa pada hari Isnin dan Khamis

Daripada Abi Hurairah r.a. daripada Rasullullah s.a.w. sabdanya: "Diperlihatkan (kehadrat Allah s.w.t.) segala amalan itu pada hari Isnin dan Khamis, justeru saya suka ketika diperlihatkan amalan-amalanku itu sedang aku berpuasa(Riwayat al-Turmuzi)

Menurut riwayat Muslim diterima daripada Abu Qatadah, pernah ditanyakan kepada Rasullullah sa.w. tentang puasa pada hari Isnin, maka Baginda s.a.w. menjawab dengan sabdanya yang bermaksud: Itulah hari yang padanya aku dilahirkan, padanya aku dibangkitkan menajdi Rasul dan padanya Al-Quran diturunkan kepadaku." (Subul al-Salam)

8.Puasa hari Rabu, Khamis dan Jumaat

Daripada 'Ubaid bin Muslim al-Qurasyi daripada bapanya r.a. ujurnya, aku bertanya atau ditanya oleh Baginda Rasullullah s.a.w. mengenai puasa dahar (sepanjang tahun), maka Baginda Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Tidak (maksudnya tidak dibenarkan puasa tersebut), kerana sesungguhnya untuk keluargamu atas dirimu ada hak. Oleh itu berpuasalah pada bulan Ramadhan dan yang mengikutinya (enam hari dalam bulan Syawal), dan pada setiap hari Rabu dan Khamis, maka anda sungguh telah (mendapat pahala) puasa sepanjang tahun dan anda juga telah berbuka." (Riwayat Abu Dawud, al-Nasai dan al-Turmuzi)

Daripada Anas bin Malik r.a. bahawa beliau telah mendengar Rasullullah s.a.w. bersabda bermaksud: Sesiapa berpuasa pada hari Rabu, Khamis dan Jumaat, nescaya Allah s.w.t. membina untuknya sebuah istana disyurga daripada permata, yaqut dan zabarzad dan dicatat baginya bebas dari api neraka" (Riwayat al-Tabrani)

Menerusi riwayat daripada Ibnu Umar r.a., Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Sesiapa berpuasa pada hari Rabu, Khamis dan Jumaat, kemudian bersedekah pada hari Jumaat sedikit atau banyak, nescaya diampunkan semua dosanya hingga menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya, bersih daripada segala dosa." (Dikeluarkan oleh al-Tabrani)

9.Puasa pada hari Putih (13,14 dan 15 bulan Islam)

Diriwayatkan daripada Jarir r.a. daripada Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud: "Berpuasa tiga hari pada setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun iaitu puasa pada hari-hari putih - pada hari 13,14 dan 15 (bulan Qamariyah)." (Riwayat al-Nasai dengan sanad yang sohih)

10.Puasa tiga hari pada setiap bulan

Diriwayatkan oleh Muslim daripada Abi Qatadah, bahawasanya Baginda Rasullullah s.a.w. bersabda maksudnya: "Puasa tiga hari pada setiap bulan, Ramadhan ke Ramadhan itulah puasa sepanjang masa."

Mengenai berpuasa tiga hari pada setiap bulan, ada beberapa pendapat Ulama. Antaranya dikatakan puasa tiga hari itu ialah puasa pada 13,14 dan 15. Inilah pendapat kebanyakkan Ulama, antara lain Umar, Ibnu Mas'ud, Abu Zar, al-Syafi'i, Abu Hanifah, Ahmad dan Ishaq.
Sementara al-Nakha'i berpendapat ialah puasa tiga hari pada akhir bulan.

11.Puasa selang-seli (sehari puasa sehari tidak)

Hadith daripada Abdullah bin 'Amru ibnu al-'As r.a. bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Telah sampai berita kepadaku bahawa anda berpuasa pada waktu siang dan berjaga (kerana beribadah) waktu malam. Jangan buat demikian kerana untuk jasadmu atas dirimu ada habuan, untuk matamu atas dirimu ada habuan dan untuk isterimu ada habuan. Puasalah dan berbukalah. Puasa tiga hari pada setiap bulan, maka dengan demikian anda mendapat pahala sepanjang tahun." Aku berkata: " Wahai Rasullullah, aku mempunyai kekuatan (keupayaan untuk berpuasa). Sabda Baginda Rasullullah s.a.w. "Maka berpuasalah puasa NabiDaud a.s. iaitu berpuasalah sehari dan berbuka sehari." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Daripada Abdullah bin 'Amru ibnu al'As katanya, telah bersabda Rasullullah sa.w. bermaksud: "Puasa yang paling disukai oleh Allah s.w.t. ialah puasa Nabi Daud dan solat yang paling disukai Allah s.w.t. ialah solat Nabi Daud, baginda tidur separuh malam dan bangun beribadah sepertiga malam dan tidur seperempat malam dan baginda berpuasa sehari dan berbuka sehari." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kad Raya Lagi...:)



Assalamualaikum...Alhamdulillah..kali ini saya dapat kad raya lagi...daripada rakan blogger, Zaity...cantik dan menarik kadnya...syukran jazilan buat Zaity...i really appreciate it...moga ukhuwwah antara kita berpanjangan hendaknya...Selamat Hari Raya buat Zaity...Maaf Zahir dan Batin..:)

Jemput Ambil Kad Raya...:)

Assalamualaikum...dijemput kepada semua pengunjung blog ini untuk mengambil Kad Raya yang tidak seberapa ini...Moga dengan pemberian kad ini akan lebih mengeratkan lagi ukhuwwah sesama kita...:) Anda diberi pilihan untuk mengambil kad yang mana satu menjadi pilihan di hati...:) Selamat Hari Raya Aidilfitri...Maaf Zahir dan Batin...



Kad Raya Dari Adelaide...:)


Assalamualaikum...Alhamdulillah...akhirnya harini saya diberi kelapangan dan sedikit waktu oleh Allah SWT untuk menulis serba sedikit dalam blog saya kali ni...:)Beberapa hari ni saya agak sibuk memandangkan Eidulfitri akan tiba tidak berapa lama lagi...Dalam sibuk nak menyambut Eidulfitri..terasa sayu dihati kerana Ramadhan akan berlalu pergi...Terasa cepat sungguh Ramadhan berlalu tahun ini berbanding tahun lepas...Moga kita semua dapat memanfaatkan sebaik mungkin tempoh Ramadhan yang masa berbaki pada tahun ini...Oklah...disini saya ingin mengucapkan Terima Kasih (syukran jazilan) buat Suzi atas pemberian Kad Raya yang cukup cantik....Jauh kad ni dilayangkan...dari Adelaide, Australia...Moga Suzi dan keluarga sentiasa dalam Rahmat dan Redha Allah selalu...Selamat Hari Raya Aidilfitri...Maaf Zahir dan Batin...



Salam Eidulfitri dari Kami Sekeluarga di Bumi Anbiya'...

LAILATULQADAR

Di antara malam-malam Ramadan, terdapat satu malam yang dikenali sebagai lailatulqadar, satu malam yang mempunyai keberkatan yang teramat besar. Dalam al-Qur'an ia dinyatakan sebagai mempunyai keberkatan dan kelebihan rohaniah yang lebih besar daripada seribu bulan. Pada malam itu Allah subhanahu wata'ala menganugerahkan keberkatan, kemuliaan, kerahmatan dan kesejahteraan khususnya kepada umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya beruntunglah bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh memperolehi apa yang dianugerahkan Allah pada malam lailatulqadar itu.

Firman Allah subhanahu wata'ala dalam surah al-Qdar ayat 1 - 5 yang maksudnya:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Qur'an) pada malam lailatulqadar. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui tentang kebesaran malam lailatul qadar itu? Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat dan jibrail dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!"

Sesungguhnya malam lailatulqadar itu penuh dengan janji-janji Allah subhanahu wata'ala kerana sifat rahman dan rahim-Nya yang ditentukan kepada orang-orang beriman yang sanggup dan bersungguh-sungguh menghidupkan malam itu dengan mengerjakan amal ibadah dengan harapan agar dapat menemukan malam yang penuh keberkatan itu. Pada malam itu Allah subhanahu wata'ala akan melipatgandakan pahala amalan hamba-hamba-Nya yang ikhlas mencari keredaan-Nya.

Pada malam tersebut, jika ditakdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala ibadah yang dilakukan bertepatan dengan masa lailatulqadar itu, maka pahala yang bakal diperolehi akan berlipat ganda, sehingga ibadah pada malam itu lebih besar pahalanya dari ibadah selama seribu bulan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala dalam surah al-Qdar ayat 3 yang bermaksud:

"Malam lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan."

Kenapakah malam lailatulqadar itu disifatkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan? Allah subhanahu wa- ta'ala menjelaskan perkara ini dengan firman-Nya dalam surah al-Qdar, ayat 4 - 5 yang maksudnya:

"(Pada malam itu) diturunkan malaikat dan jibrail dengan izin Tuhan. Kerana mereka dapat mengatur setiap pekerjaan, sehingga selamat sejahtera (malam itu) hingga terbit fajar."

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh an-Imam al-Nasa'ie daripada Abu Hurairah radiallahuanhu bahawa Nabi sallallahu alaihi wasallam telah bersabda yang maksudnya:

"Telah datang kepada kamu bulan Ramadan bulan yang penuh keberkatan. Allah 'Azzawajalla telah mewajibkan ke atas kamu supaya berpuasa padanya. (Pada bulan itu) dibukakan pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka serta dimasukkan ke dalamnya syaitan-syaitan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sesiapa yang tidak diberikan kebaikannya, maka sesungguhnya dia tidak diberikan kebaikan."

Menurut pendapat yang sahih, malam atau masa lailatulqadar ialah pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan dan ianya berpindah-pindah dan berubah-ubah sebagaimana hadis riwayat al-Imam at-Tirmizi, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah bersabda yang maksudnya:

"Carilah dengan bersungguh-sungguh malam lailatulqadar itu pada hari kesembilan daripada baki (bulan Ramadan), tujuh, lima atau tiga hari malam terakhir (dari bulan Ramadan)."

Dalam sebuah hadis yang lain riwayat al-Imam at-Tirmidzi, dari Sayidatina Aisyah radiallahuanha katanya yang bermaksud:

"Bahawasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berusaha dengan bersungguh-sungguh memperbanyakkan amal ibadat pada sepuluh malam yang akhir (dari bulan ramadan), berbanding dengan malam-malam lainnya."

Oleh kerana hadis-hadis tersebut adalah umum, maka lailatulqadar itu tidaklah dapat ditentukan masa atau ketikanya dengan tepat, hanya kita diarahkan supaya mencari saat tersebut dengan memperbanyakkan ibadat pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.

Dalam sebuah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radiallahu- anhu bahawa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

"Barangsiapa mengerjakan ibadat di malam lailatulqadar kerana imannya kepada Allah dan kerana mengharapkan keredaan-Nya, nescaya diampunkanlah dosanya yang telah lalu."

Hadis ini menunjukkan bahawa ibadat yang dilakukan pada malam lailatul-qadar besar ganjarannya. Oleh yang demikian beruntunglah bagi sesiapa yang menjumpai lailatulqadar itu. Keuntungan yang diperolehinya adalah besar dan tidak ternilai harganya.

Orang-orang yang beramal ibadat pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadan sama ada sedikit ataupun banyak adalah tergolong dalam golongan orang yang berusaha untuk mendapatkan lailatulqadar.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah, sehingga kelebihan lailatulqadar itu tetap diberikan kepada sesiapa sahaja yang mengerjakan amal ibadat sekalipun amalan yang dikerjakannya itu hanya sedikit. Oleh kerana keikhlasannya terhadap Allah subhanahu wata'ala, maka pahala dan kelebihan itu tetap diperolehinya. Beramal hanya kerana Allah semata-mata di malam hari itu haruslah juga diteruskan di siang hari. Jadikanlah siang dan malam itu sebagai masa yang diamanahkan untuk beribadat kepada Allah subhanahu wata'ala.

Ibadat yang berterusan ini amat memberi kesan yang nyata pada jiwa dan raga umat Islam jika diamalkan khususnya pada sepuluh yang akhir dalam bulan Ramadan sama ada siang atau malamnya. Mudah-mudahan dengan adanya usaha yang gigih untuk mencapai matlamat memperolehi kelebihan lailatulqadar itu akan dipermudahkan oleh Allah subhanahu wata'ala.

Bagi sesiapa yang tidak berdaya untuk mengerjakan amal ibadat yang banyak maka hendaklah ia beramal dan beribadat sekadar yang mampu dalam usaha mencari malam lailatulqadar. Janganlah dibiarkan malam itu berlalu begitu sahaja tanpa sebarang usaha untuk merebut peluang yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailat Al-Qadr.

Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar itu, yang menurut Al-Quran lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun seizin Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Di sisi lain –sebagaimana disinggung pada awal uraian– bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung pesan tentang kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa –siapa pun yang dengan tulus berdoa.

Dari hadis-hadis Nabi diperoleh pula penjelasan tentang keistimewaan bulan suci ini. Namun seandainya tidak ada keistimewaan bagi Ramadhan kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk membahagiakan manusia.

Ibadah Puasa

" Wahai orang-orang yang beriman, telah wajib ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semuga kamu menjadi orang yang bertakwa."
Surah Al Baqarah, ayat 183

Ditegaskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Ahmad, An- Nasa'i dan Al Baihaqi dari Abu Hurairah, yang bermaksud:

"Sesungguhnya telah datang kepada kamu bulan Ramadhan bulan yang penuh berkat. Allah telah fardhukan ke atas kamu berpuasa padanya. Sepanjang bulan Ramadhan itu dibuka segala pintu Syurga dan ditutup segala pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan......."

PENGERTIAN PUASA

# Puasa ertinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai terbit fajar hinggalah terbenam matahari.

PUASA WAJIB

# Puasa bulan Ramadan, puasa kifarat dan puasa nazar.

PUASA SUNAT

# Puasa enam hari pada bulan Syawal
# Puasa hari Arafah
# Puasa Hari Asyura pada 10 Muharam
# Puasa bulan Syaaban
# Puasa Isnin dan Khamis
# Puasa tengah bulan iaitu 13,14,15 pada tiap-tiap bulan qamaria (tahun Hijrah)

PUASA MAKRUH

# Puasa yang terus menerus sepanjang masa
# Tidak termasuk dua hari raya dan hari tasyriq

PUASA HARAM

# Puasa pada hari raya pertama Idil Fitri
# Puasa pada hari raya pertama Haji
# Puasa tiga hari sesudah hari raya haji atau hari tasyriq iaitu pada 11,12, dan 13 Zulhijjah.

SYARAT WAJIB PUASA

# Berakal
# Akhir Baligh (Cukup umur)
# Kuat atau mampu mengerjakan puasa

SYARAT SAH PUASA

# Islam
# Mumayyiz (dapat membezakan yang baik dan buruk)
# Suci daripada haid dan nifas
# Dalam waktu yang dibolehkan berpuasa.

RUKUN PUASA

# Berniat - Pada malam selama bulan Ramadhan hendaklah berniat di dalam hati bahawa kita akan mengerjakan puasa pada hari esok.
# Menahan diri daripada segala yang membatalkan semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari.

PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA

# Makan dan minum dengan sengaja
# Muntah dengan sengaja
# Bersetubuh tanpa keluar mani pada siang hari bulan Ramadhan
# Keluar darah haid atau nifas
# Gila
# Keluar mani akibat bersetubuh dengan perempuan. Tetapi keluar mani kerana bermimpi tidak membatalkan puasa.

ORANG YANG DIIZINKAN BERBUKA ATAU TIDAK BERPUASA

# Orang yang sakit
# Orang yang dalam perjalanan jarak jauh melebihi 52 batu atau 80.64 km.
# Orang tua yang sudah lemah
# Orang yang hamil dan orang yang menyusukan anak.

dipetik dari: darulnuman.com

Ibadah Puasa melahirkan ketaqwaan kepada Allah swt


Merujuk kepada Ayat 183 surah al Baqarah :

Wahai orang yang beriman ! Diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana ianya diwajibkan ke atas orang - orang sebelum kamu , semoga kamu bertaqwa kepada Allah swt.

( Surah al Baqarah : Ayat 183 )

Ayat di atas jelas menegaskan bahawa perkara asas yang ingin dicapai melalui ibadah puasa yang difardhukan ini ialah Taqwa. Tanpa taqwa ertinya ibadah puasa yang dilakukan oleh kita tidak mencapai objektif yang dikehendaki oleh Allah swt.

Maksud yang seerti dengannya ialah puasa kita gagal apabila kita gagal mendapatkan taqwa melalui aktiviti puasa di sepanjang bulan Ramadhan ini . Sebab semua orang memahami bahawa kejayaan dalam sesuatu kerja atau urusan ialah melihat kepada hasil atau objektif perlaksanaannya sejauh mana ia dicapai .

Prof. Doktor Wahbah az Zuhaili (Tafsir al Munir : Juzuk kedua /muka surat 130 . Cetakan Darul Fikri Damsyik) ketika menafsirkan ayat ini menyebut bahawa Ibadah Puasa melahirkan ketaqwaan kepada Allah swt melalui beberapa faktor :

1. Puasa mendidik jiwa untuk takut kepada Allah swt. dalam keadaan sembunyi atau terbuka . Lantaran tiada siapa yang memantau atau memerhati orang yang berpuasa melainkan Allah swt. ( Seseorang boleh makan lalu berpura – pura lapar dihadapan manusia tetapi tidak dihadapan Allah swt. Justeru Allah swt adalah Tuhan yang Maha Mengetahui .)

2. Mengekang keterlanjuran syahwah dan meringankan pengaruh serta penguasaannya. (lantaran puasa melemahkan gelora nafsu .)

3. Mencetus naluri yang peka ( sensitive ) dan bersifat belas simpati terhadap insan yang lain . (Lapar sewaktu berpuasa adalah mengingatkan kita kepada mereka yang miskin dan tidak bernasib baik)

4. Ibadah puasa memahamkan kita pengertian persamaan kedudukan taraf orang – orang kaya dan miskin di sisi Allah swt.

5. Meletakkan kehidupan Insan dan pengurusannya di atas sistem (yang benar dan menepati fitrah) dan mendisiplinkannya.

6. Memulihkan struktur dalaman tubuh , menguatkan kesihatan dan membebaskan jasad dari sebarang unsur yang memudharatkan jasad .

Marhaban Yaa Ramadhan

Selamat Menjalani Ibadah Puasa Kepada Pengunjung -pengunjung Blog Ini dan Seluruh Umat Islam Di Dunia Ini Daripada Saya dan Keluarga...Moga Amalan-amalan di Bulan Ramadhan Kali Ini Bertambah Lebih Baik Dari Sebelumnya...Moga Kita Sentiasa Berusaha dan Berazam Memulihkan dan Meningkatkan Prestasi Ubudiyyah dan Taqarrub Kita Kepada Allah Jalla wa a'la ...Salam Kemaafan Daripada Saya dan Keluarga...Eid Ramadhan!!!




Ketahahan Jiwa Ibadat Puasa

BERPUASA Ramadan bukan sekadar berlapar atau dahaga, malah mempunyai rahsia dan nikmat lebih daripada itu. Dr Yusuf Qardhawi dalam kitabnya al-Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahsia utama puasa yang membolehkan kita merasakan kenikmatan dalam ibadat ini.

Menguatkan Jiwa


Dalam hidup, kita mendapati ada manusia yang dikuasai hawa nafsu. Manusia seperti ini, menuruti apa yang menjadi keinginannya, meskipun ia sesuatu yang batil serta mengganggu dan merugikan orang lain.

Oleh itu, dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dengan maksud berusaha untuk menguasainya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu bersifat duniawi. Sekiranya dalam peperangan ini (hawa nafsu) manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan berlaku. Ini kerana manusia yang kalah itu akan mengalihkan pengabadiannya daripada Allah kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.

Allah memerintahkan kita memerhatikan masalah ini dalam firman-Nya bermaksud : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (Surah al-Jaathiyah, ayat 23)

Dengan puasa, manusia akan berjaya menguasai nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat. Dengannya manusia memperoleh darjat tinggi serta menjadikannya mampu mengetuk dan membuka pintu langit hingga segala doanya dimakbulkan Allah.

Rasulullah bersabda, ertinya : “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (Hadis riwayat Tirmidzi).

Mendidik Keinginan Ke Arah Kebaikan.


Puasa mendidik seseorang untuk memiliki keinginan kepada kebaikan, meskipun menghadapi pelbagai rintangan. Puasa yang dikerjakan secara terbaik akan membuatkan seseorang itu terus mempertahankan keinginannya yang baik.

Rasulullah menyatakan bahawa puasa itu setengah daripada kesabaran. Rasulullah bersabda, maksudnya: “Puasa itu sebagai benteng (daripada serangan keburukan).”

Dalam kaitan ini, puasa akan menjadikan rohani seorang Muslim semakin ampuh. Kekuatan rohani unggul ini akan membuatkan seseorang itu tidak akan lupa diri meskipun sudah mencapai kejayaan atau kenikmatan duniawi. Kekuatan rohani juga akan membuat seorang Muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

Menyihatkan Badan

Di samping kesihatan dan kekuatan rohani, puasa memberikan pengaruh positif berupa kesihatan jasmani (tubuh dan anggota badan). Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah, malah dibuktikan oleh doktor atau ahli perubatan.

Mengenal Nilai Kenikmatan Dan Bersyukur

Dalam hidup ini, sebenarnya terlalu banyak kenikmatan diberikan oleh Allah kepada manusia, tetapi ramai yang tidak mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat kerana menginginkan dua. Dapat dua tidak terasa nikmat kerana menginginkan tiga dan begitulah seterusnya.

Maka, dengan puasa manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi kenikmatan yang diperoleh, malah diminta merenung nikmat Allah kepada kita.

Di sinilah, pentingnya puasa bagi mendidik untuk menyedari betapa tingginya nilai kenikmatan yang Allah berikan supaya kita menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan erti kenikmatan daripada Allah. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya.

Allah berfirman bermaksud : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7).

Mengingati Dan Merasakan Penderitaan Orang Lain


Berlapar dan dahaga memberikan pengalaman bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Pengalaman berlapar dan haus itu akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam (lebih kurang 12 atau 13 jam), sementara penderitaan orang lain entah bila berakhir. Dari sini puasa akan melahir dan memantapkan rasa simpati kita kepada kaum Muslimin lainnya yang hidup dalam kemiskinan dan menderita.

Oleh kerana itu, sebagai simbol dari rasa simpati itu, sebelum Ramadan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat (fitrah). Ini supaya dengan itu setahap demi setahap kita mampu mengatasi persoalan umat yang menderita. Bahkan, zakat tidak hanya bagi kepentingan orang miskin dan menderita, malah menghilangkan kekotoran jiwa berkaitan harta seperti gila harta dan kikir.

Allah berfirman bermaksud : “Ambillah zakat daripada sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersih dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah at Taubah, ayat 103)