Rahsia di Sebalik Wuduk

Ramai di antara kita yang tidak sedar akan hakikat bahawa setiap yang dituntut dalam Islam
mempunyai hikmah nya yang tersendiri.

Pernahkah kita terfikir mengapa kita mengambil wuduk sedemikian rupa?

Pernah kita terfikir segala hikmah yang kita perolehi dalam menghayati Islam? Pernah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam?

1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah,ampunilah dosa mulut dan lidahku ini".
Penjelasan nombor 1 : Kita hari-hari bercakap benda-benda yang tak berfaedah.

2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah, putihkanlah muka ku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan muka ku ini".
Penjelasan nombor 2 : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.

3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku ditangan kanan ku ini".
Penjelasan nombor 3 : Ahli syurga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan

4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
Penjelasan nombor 4 : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri .

5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan,"Ya Allah,lindunganlah daku dari terik matahari di padang Masyar dengan Arasy Mu".
Penjelasan nombor 5 : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.

6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan,"Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini"
Penjelasan nombor 6 : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah dll.

7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan."Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
Penjelasan nombor 7 : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali..

8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu dengan,"Ya, Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat- tempat maksiat"
Penjelasan nombor 8 : Qada' dan Qadar kita di tangan Allah.


dipetik dari: tranungkite

Sakit Di Hari Raya...

Assalamualaikum...Alhamdulillah syukur ke hadrat Allah SWT kerana saya masih lagi boleh menulis di dalam blog saya pada hari raya ini...:)Maklumlah, raya kali ini saya hanya duduk di rumah sahaja kerana kami sekeluarga telah jatuh sakit...demam, selsema dan batuk-batuk...Biasalah, sindrom nak tukar musim...selalu begini...ujian dari Allah...Ceritanya begini...Kami baru balik beraya dari rumah kawan pada hari raya pertama...pada malamnya, suami saya telah berasa tidak sedap badan...keesokannya terus melarat demamnya...selang dua hari...Huzaifah anak kesayangan saya pula jatuh sakit...lagi teruk demamnya daripada suami saya...dengan batuk-batuk dan selsema...Alhamdulillah harini demamnya telah kebah, cuma batuk dan selsema saje tak baik-baik lagi...dan hari ni juga saya pula berasa sakit-sakit tekak dan tidak sedap badan...So, raya ni memang kami tak kemana-mana...tapi, Alhamdulillah kerana sempat juga beraya ke rumah kawan saya pada raya pertama... Doakan kami sekeluarga cepat sembuh...Amin..

Idulfitri Antara Ibadah dan Tradisi


Oleh Maksun Faiz

SEBULAN lamanya umat Islam melaksanakan puasa, suatu ibadah yang mempunyai nilai kekhususan di hadapan Allah jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk ibadah lain (hadist Qudsi). Puasa ini selain disebut sebagai ibadah syakhsiyyah (pribadional) yang lebih menitikberatkan pada hubungan vertikal, antara Allah dengan hamba-Nya yang beriman, derajat pahalanya juga tidak pernah ditampakkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Allah hanya memberikan sinyal ketakwaan saja bagi mereka (mukmin) yang melaksanakannya dengan baik.

Dari intisari pemahaman surat Al-Baqarah ayat 183, yang dijadikan landasan hukum kewajiban puasa Ramadhan, Allah tidak menunjukkan secara langsung berapa dan apa imbalan (pahala) bagi mukmin yang telah sukses melaksanakan puasa. Yang Allah tampilkan adalah pernyataan la'allakum tattaqun (mudah-mudahan kamu sekalian termasuk orang-orang yang bertakwa). Dari ungkapan ayat tersebut, terkandung nilai motivatif bagi umat Islam untuk berlomba mencari kebaikan maksimal dihadapan Allah. Ibarat seorang pekerja yang tidak pernah diberi tahu kepastian upahnya oleh sang majikan, pasti mereka akan berlomba berbuat yang terbaik demi prestasi dan tingginya upah.

Predikat takwa hanya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman karena kesempurnaannya di dalam menjalankan puasa. Itulah yang membuat umat Islam semakin terangsang untuk berlomba beribadah pada bulan Ramadhan, apalagi rangsangan itu bukan sekadar berpusara pada keutamaan ibadah puasa saja, tapi lebih jauh dari itu adalah kebesaran bulan Ramadhan yang disebut sebagai sayyid al-Syuhur atau tuannya bulan dari segala bulan.

Ramadhan disebut sebagai tuannya bulan atau bulan yang mulia, karena pada bulan itu Allah telah membuka bursa pahala dan menutup pintu dosa. Pada bulan Ramadhan juga telah terjadi minimal lima keistimewaan yang monumental, antara lain: (1) puasa wajib sebulan penuh, sedangkan pada bulan-bulan di luar Ramadhan tidak ada puasa wajib kecuali puasa nadzar, puasa kifarat sumpah, dan puasa kifarat bersenggama pada siang Ramadhan, (2) Shalat Tarawih, (3) Lailatul Qadar, lebih dikenal sebagai malam turunnya Al-Quran yang nilai keutamaannya lebih agung dari ibadah 1.000 bulan, (4) Zakat Fitrah, sebagai penghantar pahala
puasa ke haribaan Allah, dan (5) semua kitab suci dari Allah turun pada bulan Ramadhan.

Maka, sangatlah beruntung bagi mereka yang mampu melaksanakan ibadah pada bulan suci secara maksimal tanpa sedikit pun cacat.

Tradisi awal

Adalah merupakan suatu keberuntungan yang patut dirayakan oleh umat Islam, jika sebulan lamanya mampu mengukir prestasi ibadah dengan gemilang. Kegemilangan itu akan lebih menjurus pada citra fitri, jika umat Islam yang beriman secara ikhlas mengeluarkan zakat fitrah sebagai unsur kelengkapan ibadah puasa yang dilaksanakan selambat-lambatnya sebelum berangkat menunaikan shalat 'Id pada tanggal 1 Syawal.

Tradisi penyambutan hari raya 1 Syawal, yang dianggap sebagai hari kemenangan bagi umat Islam, sebenarnya telah dimulai sejak zaman Arab purba. Orang Arab purba merayakan pesta pada setiap tanggal 1 Syawal dengan aneka ragam permainan. Tradisi itu menurut Imam Thabari berlangsung terus sampai hijrah Nabi ke Madinah.

Menurut penuturan hadist Shahih Bukhari, bahwa pada suatu hari raya,Rasulullah SAW dan isteri beliau, Aisyah ra., menyaksikan tari-tarian perang, ketangkasan panah-memanah dan menunggang kuda di halaman mesjid yang dilakukan oleh serombongan Arab Sudan yang lebih terkenal dengan Bani Arfidah. Dan Rasulullah tidak berkomentar apa-apa mengenai pertunjukan yang sudah menjadi kebiasaan mereka bila menyambut hari raya.

Pada hari raya yang lain, menurut hadist Shahih Bukhari, di rumah Rasulullah terdengar dua orang wanita menyanyi. Abu Bakar melarangnya dengan mengatakan "Seruling setan di sisi Nabi", akan tetapi Rasulullah membiarkannya, mengingat waktu itu adalah hari raya.

Namun dalam kesempatan yang lain, di mana pada waktu Rasulullah berkunjung ke Madinah, beliau menjumpai ahli Madinah yang telah mempunyai kebiasaan dua hari untuk bermain-main. Seketika itu pula Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kamu dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha". Dari cuplikan hadist yang diriwayatkan Al-Nasa'i dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih itu, telah tergambar dengan jelas adanya upaya untuk membedakan cara dan sikap mereka menghadapi hari raya. Maka Rasulullah menganjurkan kepada umat Islam Madinah supaya hari itu diisi dengan memperbanyak dzikir, menegakkan (melaksanakan) shalat 'Id dan memperbanyak amal baik lainnya.

Ada dua sikap yang merupakan paradigma pemikiran Rasulullah yang terkesan kontradiktif, yakni sikap Rasulullah yang kooperatif (membiarkan) terhadap tradisi Arab pada umumnya di saat merayakan 1 Syawal (Idul Fitri), dan mengritik kebiasaan orang-orang Madinah dengan memberikan solusi alternatif yang lebih positif dan bernuansa ibadah.

Hakikat Idul Fitri

Ibadah puasa selama satu bulan sesungguhnya merupakan suatu training (latihan) yang tinggi bagi mental dan fisik manusia. Ia juga merupakan gelanggang perjuangan yang maha hebat untuk mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu yang menjadi sumber kebinasaan manusia. Dan yang utama, puasa merupakan batu ujian ketaatan manusia kepada Tuhannya. Karena itulah puasa membuat suatu kristalisasi di antara mereka yang mengaku dirinya muslim dan beriman. Kristalisasi antara yang asli dan imitasi.

Oleh sebab itu, Tuhan menciptakan hari raya 'Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal sebagai hari pesta pora kemenangan dan saat syukuran yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan puasa dengan penuh kesempurnaan. Hari di mana manusia kembali kepada fitrah asalnya yang tidak punya dosa dan noda, bak seorang orok yang baru lahir dari kandungan ibunya. Lahir dengan wajah dan mental baru, menjadi manusia yang berwatak dengan jiwa tauhid yang tinggi. Itulah makna kalimat: Hari Raya Fitrah, min al-'Aidin wa al-Faidzin.

Paradigma pemikiran Rasulullah SAW tersebut di atas yang terkesan kontradiktif, justru merupakan sikap bijak yang diterapkannya di saat menghadapi dua bentuk masyarakat yang kualitas keimanannya tidak sama. Terhadap orang Arab yang kualitas keimanannya masih relatif rendah (mua'allaf) Rasulullah bersikap pasif, agar tidak terjadi gejolak pada mental mereka secara drastis. Namun, terhadap orang Madinah yang lebih kuat imannya, Rasulullah secara tegas menegurnya.

Dari sikap Rasulullah SAW tersebut dapat dianalisis, bahwa pada hari raya Idul Fitri (1 Syawal) itu hendaklah seluruh potensi umat Islam dikerahkan untuk menyambut hari kebahagiaan itu dengan segala kekhidmatan. Ia harus disambut bukan dengan cara membakar petasan, bersukaria di tempat-tempat pesta maupun pesiar, makan yang berlebihan, dan berlomba dalam hal kemewahan duniawi yang lebih terkesan konsumtif dan pleonastis (mubadzir) itu, tetapi ia harus disambut dengan mengagungkan asma Tuhan, mengumandangkan takbir, melaksanakan shalat 'Id yang khusyuk dan dengan khutbah yang menyeru manusia bertakwa, beramal membantu kaum melarat, utamanya dengan membayar zakat fitrah. Untuk lebih menyempurnakan suasana penyambutan hari raya (1 Syawal), maka sebelum datang menghadiri shalat 'Id, kita dianjurkan (sunnah) mandi dahulu, memakai pakaian yang baik lagi
bersih dan memakai wewangian.

Untuk lebih menciptakan suasana ukhuwah, maka ada beberapa bentuk tradisi khazanah Indonesia yang bermuatan ibadah yang masih perlu dipertahankan, seperti: tradisi ziarah ke makam guna mendoakan leluhur yang telah mendahului, tradisi berkunjung dari rumah ke rumah (silaturrahim), mengunjungi rumah fakir miskin dan yatim piatu dengan membawa sedekah, ber-halal bihalal, dan masih banyak lagi tradisi 1 Syawal yang positif dan bernilai ibadah yang masih perlu dipertahankan.

Halal bihalal

Di antara bentuk tradisi yang sarat akan muatan nilai ibadah adalah halal bihalal. Di dalam al-Quran maupun al-Sunnah, kita tidak menemukan suatu penjelasan tentang arti halal bihalal. Istilah tersebut memang khas Indonesia, bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan non-Indonesia, walaupun yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Secara definitif, istilah halal bihalal dapat memberikan tiga arti yang berbeda. Dari segi hukum, maka kata halal adalah lawan kata haram. Halal yang dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal, akan memberikan kesan bahwa dengan cara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dari segi linguistik, kata halal terambil dari akar kata halla atau halal yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai dengan rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain: menyelesaikan problem atau kesulitan, meluruskan benang kusut, mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu. Dengan demikian, makna halal bihalal dalam tinjauan ini seakan-akan kita menginginkan adanya sesuatu yang mengubah hubungan kita dari yang tadinya keruh menjadi jernih, dari yang beku menjadi cair, dan dari yang terikat
menjadi terlepas atau bebas, walaupun kesemua yang disebut di atas belum tentu haram.

Arti yang ketiga adalah dari tinjauan Qurani serta kesan-kesan penggunaan kata halal dalam Al-Quran. Dari segi ini, dapat disimpulkan bahwa halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Quran menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap muslim harus merupakan sesuatu
baik lagi menyenangkan.

Dari beberapa pengertian di atas, maka halal bihalal (silaturrahim) menuntut upaya maaf-memaafkan. Kata maaf, yang berasal dari Al-Qur'an al-'afwu, berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Artinya, bukanlah memaafkan namanya manakala masih tersisa bekas luka itu di hatinya, bila masih ada dendam yang membara.

Itu sebabnya - berdasarkan teks-teks keagamaan -, para pakar hukum menuntut dari seseorang yang memohon maaf dari orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya, baik berupa materi maupun immateri.

Secara praktis, hal itu memang akan sulit dilakukan oleh seseorang yang telah berbuat kesalahan. Artinya, manakala seseorang yang berbuat kesalahan itu telah menyampaikan kata maaf, mungkin bukannya maaf yang diterima, namun justru kemarahan dan putus hubungan. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah doa: "Ya Allah sesungguhnya aku memiliki dosa pada-Mu dan dosa yang kulakukan pada mahluk-Mu. Aku bermohon ya Allah agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan pada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan pada mahluk-Mu".

Sebenarnya, di dalam Al-Quran terdapat peringkat yang lebih tinggi dari al-'afwu, yakni al-safhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan dari sesuatu. Darinya dibentuk kata safhat yang berarti lembaran atau halaman, serta musafahat yang berarti berjabat tangan. Ini berarti, seseorang yang melakukan al-safhu, dituntut untuk "melapangkan dadanya" sehingga mampu menanggung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Menurut Al-Raghib Al-Asfahany - seorang pakar bahasa Arab dan Al-Quran -, bahwa al-safhu yang diilustrasikan dengan berjabat tangan itu "lebih tinggi nilainya" dari pada memaafkan. Agaknya benar juga pandangannya itu. Bukankah masih mungkin ada satu-dua titik yang sulit bersih pada lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus? Atau, bukankah lembaran yang telah ternodai walaupun telah bersih kembali tidak dapat sama dengan lembaran baru?

Karenanya, di hari Idul Fitri ini bukalah lembaran baru dan tutup lembaran lama. Wujudkan sikap ihsan, karena yang demikianlah yang paling disukai oleh Allah. Demikianlah, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1417 H.

(Drs Maksun Faiz, staf Pengajar pada Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo di Semarang, Jawa Tengah.)

FADHILAT PUASA-PUASA SUNNAT SEPANJANG TAHUN


1. Puasa enam hari dalam bulan Syawal

Fadhilat atau keutamaannya sangat besar sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud: "Sesiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diiringi dengan puasa (sunnat) enam hari dalam bulan Syawal adalah seperti puasa selama setahun." (Riwayat Muslim)

Cara melakukannya yang terbaik (afdal) secara berturut-turut dan dimulakan pada hari kedua bulan Syawal, tetapi boleh dan sah dengan tidak berturut-turut, misalnya sehari puasa dua hari tidak, kemudian puasa lagi, asalkan genap enam hari didalam bulan Syawal. Malah sesetengah ulama mengharuskan puasa enam hari dalam bulan Syawal diniatkan berserta puasa qadha Ramadhan.

2. Puasa hari 'Arafah (9 Zulhijjah)

Disunatkan kepada orang yang tidak melakukan ibadah haji. Fadhilatnya sangat besar sebagaimana dijelaskan menerusi hadith daripada Abi Qatadah r.a. ujurnya, Rasullullah s.a.w. telah ditanya oleh sahabat mengenai puasa hari 'Arafah, sabdanya bermaksud: "Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan tahun-tahun kemudiannya." (Riwayatkan oleh Muslim dan al-Turmuzi)

Menerusi hadith daripada Abi Qatadah r.a. juga bahawa Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Puasa pada hari 'Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun yang lalu dan tahun yang akan datanag." (Diriwayat oleh Muslim)

3.Puasa pada bulan Muharram

Daripada Abi Hurairah r.a. katanya, telah bersabda Rasullullah s.a.w. yang maksudnya: "Seafdal-afdal puasa selepas Ramadhan ialah puasa pada bulan Allah iaitu bulan Muharram dan seafdal-afdal solat selepas solat fardhu ialah solat malam." (Riwayat Muslim)

Daripada Ibu 'Abbas r.a. katanya, telah bersabda Rasullullah s.a.w. maksudnya: "Sesiapa berpuasa pada hari 'Arafah nescaya terhapus dosanya dua tahun dan sesiapa berpuasa satu hari daripada bulan Muharram maka untuknya setiap sehari (mendapat pahala) 30 hari." (Dikeluarkan oleh al-Tabrani)

4.Puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram)

Daripada Abi Qatadah r.a. bahawasanya Rasullullah s.a.w. telah ditanya mengenai puasa hari 'Asyura (yakni hari ke-10 bulan Muharram) maka sabda Baginda s.a.w. yang bermaksud: "Ia akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (Riwayat Muslim)

5.Puasa hari Tasu'a (Tanggal 9 Muharram)

Ia disunatkan, namun Rasullullah s.a.w. belum sempat mengerjakannya, bagaimanapun Baginda s.a.w. bersabda maksudnya: "Sesungguhnya jika aku hidup pada tahun hadapan, aku akan berpuasa pada 9 Muharra." (Riwayat Ahmad dan Muslim)

PERINGATAN

Puasa sunnat pada hari ke-10 Muharram hendaklah digabungkan dengan hari sebelumnya iaitu pada hari ke-9 atau dengan hari selepasnya (yakni hari ke-11) dan lebih baik lagi dikerjakan tiga hari berturut-turut iaitu ke-9,ke-10 dan ke-11. Jika ditunggalkan 10 Muharram sahaja maka hukumnya makruh kerana menyerupai amalan orang Yahudi.

Sabda Nabi Muhammad s.a.w yang bermaksud: "Berpuasalah pada hari 'Asyura (10 Muharram) dan jangalah menyamai perbuatan orang Yahudi; oleh itu berpuasalah sehari sebelum dan sehari sesudahnya." (Riwayat Imam Ahmad)

6.Puasa bulan Sya'aban

Daripada Usamah bin Zaid r.a. katanya, aku berkata: "Wahai Rasullullah, tidak saya lihat tuan hamba berpuasa satu bulan daripada bulan-bulan (dalam setahun selain Ramadhan) seperti tuan berpuasa pada bulan Sya'aban." Sabda Rasullullah s.a.w.: "Bulan ini (yakni bulan Sya'aban) ialah bulan yang manusia lalai padanya antara Rajab dan Ramadhan, pada hal ia (yakni bulan Sya'aban) adalah bulan diangkat amalan kepada Tuhan seru sekelian alam, maka aku suka amalanku diangkat dan aku berpuasa." (Riwayat al-Nasai)

Ummu Salamah r.a. pula berkata: "Tidak pernah aku lihat Rasullullah s.a.w. berpuasa dua bulan berturut-turut melainkan pada bulan Sya'aban dan Ramadhan." (Riwayat al-Turmuzi)

7.Puasa pada hari Isnin dan Khamis

Daripada Abi Hurairah r.a. daripada Rasullullah s.a.w. sabdanya: "Diperlihatkan (kehadrat Allah s.w.t.) segala amalan itu pada hari Isnin dan Khamis, justeru saya suka ketika diperlihatkan amalan-amalanku itu sedang aku berpuasa(Riwayat al-Turmuzi)

Menurut riwayat Muslim diterima daripada Abu Qatadah, pernah ditanyakan kepada Rasullullah sa.w. tentang puasa pada hari Isnin, maka Baginda s.a.w. menjawab dengan sabdanya yang bermaksud: Itulah hari yang padanya aku dilahirkan, padanya aku dibangkitkan menajdi Rasul dan padanya Al-Quran diturunkan kepadaku." (Subul al-Salam)

8.Puasa hari Rabu, Khamis dan Jumaat

Daripada 'Ubaid bin Muslim al-Qurasyi daripada bapanya r.a. ujurnya, aku bertanya atau ditanya oleh Baginda Rasullullah s.a.w. mengenai puasa dahar (sepanjang tahun), maka Baginda Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Tidak (maksudnya tidak dibenarkan puasa tersebut), kerana sesungguhnya untuk keluargamu atas dirimu ada hak. Oleh itu berpuasalah pada bulan Ramadhan dan yang mengikutinya (enam hari dalam bulan Syawal), dan pada setiap hari Rabu dan Khamis, maka anda sungguh telah (mendapat pahala) puasa sepanjang tahun dan anda juga telah berbuka." (Riwayat Abu Dawud, al-Nasai dan al-Turmuzi)

Daripada Anas bin Malik r.a. bahawa beliau telah mendengar Rasullullah s.a.w. bersabda bermaksud: Sesiapa berpuasa pada hari Rabu, Khamis dan Jumaat, nescaya Allah s.w.t. membina untuknya sebuah istana disyurga daripada permata, yaqut dan zabarzad dan dicatat baginya bebas dari api neraka" (Riwayat al-Tabrani)

Menerusi riwayat daripada Ibnu Umar r.a., Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Sesiapa berpuasa pada hari Rabu, Khamis dan Jumaat, kemudian bersedekah pada hari Jumaat sedikit atau banyak, nescaya diampunkan semua dosanya hingga menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya, bersih daripada segala dosa." (Dikeluarkan oleh al-Tabrani)

9.Puasa pada hari Putih (13,14 dan 15 bulan Islam)

Diriwayatkan daripada Jarir r.a. daripada Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud: "Berpuasa tiga hari pada setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun iaitu puasa pada hari-hari putih - pada hari 13,14 dan 15 (bulan Qamariyah)." (Riwayat al-Nasai dengan sanad yang sohih)

10.Puasa tiga hari pada setiap bulan

Diriwayatkan oleh Muslim daripada Abi Qatadah, bahawasanya Baginda Rasullullah s.a.w. bersabda maksudnya: "Puasa tiga hari pada setiap bulan, Ramadhan ke Ramadhan itulah puasa sepanjang masa."

Mengenai berpuasa tiga hari pada setiap bulan, ada beberapa pendapat Ulama. Antaranya dikatakan puasa tiga hari itu ialah puasa pada 13,14 dan 15. Inilah pendapat kebanyakkan Ulama, antara lain Umar, Ibnu Mas'ud, Abu Zar, al-Syafi'i, Abu Hanifah, Ahmad dan Ishaq.
Sementara al-Nakha'i berpendapat ialah puasa tiga hari pada akhir bulan.

11.Puasa selang-seli (sehari puasa sehari tidak)

Hadith daripada Abdullah bin 'Amru ibnu al-'As r.a. bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Telah sampai berita kepadaku bahawa anda berpuasa pada waktu siang dan berjaga (kerana beribadah) waktu malam. Jangan buat demikian kerana untuk jasadmu atas dirimu ada habuan, untuk matamu atas dirimu ada habuan dan untuk isterimu ada habuan. Puasalah dan berbukalah. Puasa tiga hari pada setiap bulan, maka dengan demikian anda mendapat pahala sepanjang tahun." Aku berkata: " Wahai Rasullullah, aku mempunyai kekuatan (keupayaan untuk berpuasa). Sabda Baginda Rasullullah s.a.w. "Maka berpuasalah puasa NabiDaud a.s. iaitu berpuasalah sehari dan berbuka sehari." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Daripada Abdullah bin 'Amru ibnu al'As katanya, telah bersabda Rasullullah sa.w. bermaksud: "Puasa yang paling disukai oleh Allah s.w.t. ialah puasa Nabi Daud dan solat yang paling disukai Allah s.w.t. ialah solat Nabi Daud, baginda tidur separuh malam dan bangun beribadah sepertiga malam dan tidur seperempat malam dan baginda berpuasa sehari dan berbuka sehari." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)