Kad Raya Lagi..

Salam Eiduladha semua...syukran jazilan buat rakan alam maya saya yang baru, Ghost_Mar atas pemberian kad raya ini...cantik sangat..:) Semoga anti sentiasa dalam lindungan dan rahmat Allah SWT selalu...

Salam Eiduladha dari Bumi Anbiya'..

Selamat Hari Raya AidulAdha...

Assalamualaikum...alhamdulillah..akhirnya dapat juga saya mengupdate blog saya ni setelah lama menyepi...mmm...bukannya apa, sekarang kuliah saya dah bermula...dengan suami saya busy untuk mengambil sanad mengaji lagi...jadi memang tak berkesempatan langsung nak mengisi n3 baru dalam blog nih...

Tapi...akhirnya hari ni dapat juga saya mengisi n3 baru...memandangkan suami saya juga sudah selesai mengambil sanad...dan kuliah saya juga tak lama lagi nak habis..memandangkan exam tak lama lagi pd 3hb/1/08 insyallah...doakan kejayaan bersama saya dan sahabat-sahabat saya yang lain...windu nak balik Malaysia..:)

Memandangkan tak berapa lama lagi kita akan menyambut EidulAdha, jadi dikesempatan ni..saya dan keluarga ingin mengucapkan Selamat Hari Raya AidulAdha buat rakan-rakan blogger yang sudi berkunjung ke blog saya ni...Moga Ukhuwwah yang terjalin berkekalan hendaknya...

So, terimalah kad Raya daripada kami sekeluarga buat semua rakan blogger...

Rahsia di Sebalik Wuduk

Ramai di antara kita yang tidak sedar akan hakikat bahawa setiap yang dituntut dalam Islam
mempunyai hikmah nya yang tersendiri.

Pernahkah kita terfikir mengapa kita mengambil wuduk sedemikian rupa?

Pernah kita terfikir segala hikmah yang kita perolehi dalam menghayati Islam? Pernah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam?

1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah,ampunilah dosa mulut dan lidahku ini".
Penjelasan nombor 1 : Kita hari-hari bercakap benda-benda yang tak berfaedah.

2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah, putihkanlah muka ku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan muka ku ini".
Penjelasan nombor 2 : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.

3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku ditangan kanan ku ini".
Penjelasan nombor 3 : Ahli syurga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan

4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan, "Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
Penjelasan nombor 4 : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri .

5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan,"Ya Allah,lindunganlah daku dari terik matahari di padang Masyar dengan Arasy Mu".
Penjelasan nombor 5 : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.

6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan,"Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini"
Penjelasan nombor 6 : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah dll.

7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan."Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
Penjelasan nombor 7 : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali..

8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu dengan,"Ya, Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat- tempat maksiat"
Penjelasan nombor 8 : Qada' dan Qadar kita di tangan Allah.


dipetik dari: tranungkite

Sakit Di Hari Raya...

Assalamualaikum...Alhamdulillah syukur ke hadrat Allah SWT kerana saya masih lagi boleh menulis di dalam blog saya pada hari raya ini...:)Maklumlah, raya kali ini saya hanya duduk di rumah sahaja kerana kami sekeluarga telah jatuh sakit...demam, selsema dan batuk-batuk...Biasalah, sindrom nak tukar musim...selalu begini...ujian dari Allah...Ceritanya begini...Kami baru balik beraya dari rumah kawan pada hari raya pertama...pada malamnya, suami saya telah berasa tidak sedap badan...keesokannya terus melarat demamnya...selang dua hari...Huzaifah anak kesayangan saya pula jatuh sakit...lagi teruk demamnya daripada suami saya...dengan batuk-batuk dan selsema...Alhamdulillah harini demamnya telah kebah, cuma batuk dan selsema saje tak baik-baik lagi...dan hari ni juga saya pula berasa sakit-sakit tekak dan tidak sedap badan...So, raya ni memang kami tak kemana-mana...tapi, Alhamdulillah kerana sempat juga beraya ke rumah kawan saya pada raya pertama... Doakan kami sekeluarga cepat sembuh...Amin..

Idulfitri Antara Ibadah dan Tradisi


Oleh Maksun Faiz

SEBULAN lamanya umat Islam melaksanakan puasa, suatu ibadah yang mempunyai nilai kekhususan di hadapan Allah jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk ibadah lain (hadist Qudsi). Puasa ini selain disebut sebagai ibadah syakhsiyyah (pribadional) yang lebih menitikberatkan pada hubungan vertikal, antara Allah dengan hamba-Nya yang beriman, derajat pahalanya juga tidak pernah ditampakkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Allah hanya memberikan sinyal ketakwaan saja bagi mereka (mukmin) yang melaksanakannya dengan baik.

Dari intisari pemahaman surat Al-Baqarah ayat 183, yang dijadikan landasan hukum kewajiban puasa Ramadhan, Allah tidak menunjukkan secara langsung berapa dan apa imbalan (pahala) bagi mukmin yang telah sukses melaksanakan puasa. Yang Allah tampilkan adalah pernyataan la'allakum tattaqun (mudah-mudahan kamu sekalian termasuk orang-orang yang bertakwa). Dari ungkapan ayat tersebut, terkandung nilai motivatif bagi umat Islam untuk berlomba mencari kebaikan maksimal dihadapan Allah. Ibarat seorang pekerja yang tidak pernah diberi tahu kepastian upahnya oleh sang majikan, pasti mereka akan berlomba berbuat yang terbaik demi prestasi dan tingginya upah.

Predikat takwa hanya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman karena kesempurnaannya di dalam menjalankan puasa. Itulah yang membuat umat Islam semakin terangsang untuk berlomba beribadah pada bulan Ramadhan, apalagi rangsangan itu bukan sekadar berpusara pada keutamaan ibadah puasa saja, tapi lebih jauh dari itu adalah kebesaran bulan Ramadhan yang disebut sebagai sayyid al-Syuhur atau tuannya bulan dari segala bulan.

Ramadhan disebut sebagai tuannya bulan atau bulan yang mulia, karena pada bulan itu Allah telah membuka bursa pahala dan menutup pintu dosa. Pada bulan Ramadhan juga telah terjadi minimal lima keistimewaan yang monumental, antara lain: (1) puasa wajib sebulan penuh, sedangkan pada bulan-bulan di luar Ramadhan tidak ada puasa wajib kecuali puasa nadzar, puasa kifarat sumpah, dan puasa kifarat bersenggama pada siang Ramadhan, (2) Shalat Tarawih, (3) Lailatul Qadar, lebih dikenal sebagai malam turunnya Al-Quran yang nilai keutamaannya lebih agung dari ibadah 1.000 bulan, (4) Zakat Fitrah, sebagai penghantar pahala
puasa ke haribaan Allah, dan (5) semua kitab suci dari Allah turun pada bulan Ramadhan.

Maka, sangatlah beruntung bagi mereka yang mampu melaksanakan ibadah pada bulan suci secara maksimal tanpa sedikit pun cacat.

Tradisi awal

Adalah merupakan suatu keberuntungan yang patut dirayakan oleh umat Islam, jika sebulan lamanya mampu mengukir prestasi ibadah dengan gemilang. Kegemilangan itu akan lebih menjurus pada citra fitri, jika umat Islam yang beriman secara ikhlas mengeluarkan zakat fitrah sebagai unsur kelengkapan ibadah puasa yang dilaksanakan selambat-lambatnya sebelum berangkat menunaikan shalat 'Id pada tanggal 1 Syawal.

Tradisi penyambutan hari raya 1 Syawal, yang dianggap sebagai hari kemenangan bagi umat Islam, sebenarnya telah dimulai sejak zaman Arab purba. Orang Arab purba merayakan pesta pada setiap tanggal 1 Syawal dengan aneka ragam permainan. Tradisi itu menurut Imam Thabari berlangsung terus sampai hijrah Nabi ke Madinah.

Menurut penuturan hadist Shahih Bukhari, bahwa pada suatu hari raya,Rasulullah SAW dan isteri beliau, Aisyah ra., menyaksikan tari-tarian perang, ketangkasan panah-memanah dan menunggang kuda di halaman mesjid yang dilakukan oleh serombongan Arab Sudan yang lebih terkenal dengan Bani Arfidah. Dan Rasulullah tidak berkomentar apa-apa mengenai pertunjukan yang sudah menjadi kebiasaan mereka bila menyambut hari raya.

Pada hari raya yang lain, menurut hadist Shahih Bukhari, di rumah Rasulullah terdengar dua orang wanita menyanyi. Abu Bakar melarangnya dengan mengatakan "Seruling setan di sisi Nabi", akan tetapi Rasulullah membiarkannya, mengingat waktu itu adalah hari raya.

Namun dalam kesempatan yang lain, di mana pada waktu Rasulullah berkunjung ke Madinah, beliau menjumpai ahli Madinah yang telah mempunyai kebiasaan dua hari untuk bermain-main. Seketika itu pula Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kamu dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha". Dari cuplikan hadist yang diriwayatkan Al-Nasa'i dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih itu, telah tergambar dengan jelas adanya upaya untuk membedakan cara dan sikap mereka menghadapi hari raya. Maka Rasulullah menganjurkan kepada umat Islam Madinah supaya hari itu diisi dengan memperbanyak dzikir, menegakkan (melaksanakan) shalat 'Id dan memperbanyak amal baik lainnya.

Ada dua sikap yang merupakan paradigma pemikiran Rasulullah yang terkesan kontradiktif, yakni sikap Rasulullah yang kooperatif (membiarkan) terhadap tradisi Arab pada umumnya di saat merayakan 1 Syawal (Idul Fitri), dan mengritik kebiasaan orang-orang Madinah dengan memberikan solusi alternatif yang lebih positif dan bernuansa ibadah.

Hakikat Idul Fitri

Ibadah puasa selama satu bulan sesungguhnya merupakan suatu training (latihan) yang tinggi bagi mental dan fisik manusia. Ia juga merupakan gelanggang perjuangan yang maha hebat untuk mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu yang menjadi sumber kebinasaan manusia. Dan yang utama, puasa merupakan batu ujian ketaatan manusia kepada Tuhannya. Karena itulah puasa membuat suatu kristalisasi di antara mereka yang mengaku dirinya muslim dan beriman. Kristalisasi antara yang asli dan imitasi.

Oleh sebab itu, Tuhan menciptakan hari raya 'Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal sebagai hari pesta pora kemenangan dan saat syukuran yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan puasa dengan penuh kesempurnaan. Hari di mana manusia kembali kepada fitrah asalnya yang tidak punya dosa dan noda, bak seorang orok yang baru lahir dari kandungan ibunya. Lahir dengan wajah dan mental baru, menjadi manusia yang berwatak dengan jiwa tauhid yang tinggi. Itulah makna kalimat: Hari Raya Fitrah, min al-'Aidin wa al-Faidzin.

Paradigma pemikiran Rasulullah SAW tersebut di atas yang terkesan kontradiktif, justru merupakan sikap bijak yang diterapkannya di saat menghadapi dua bentuk masyarakat yang kualitas keimanannya tidak sama. Terhadap orang Arab yang kualitas keimanannya masih relatif rendah (mua'allaf) Rasulullah bersikap pasif, agar tidak terjadi gejolak pada mental mereka secara drastis. Namun, terhadap orang Madinah yang lebih kuat imannya, Rasulullah secara tegas menegurnya.

Dari sikap Rasulullah SAW tersebut dapat dianalisis, bahwa pada hari raya Idul Fitri (1 Syawal) itu hendaklah seluruh potensi umat Islam dikerahkan untuk menyambut hari kebahagiaan itu dengan segala kekhidmatan. Ia harus disambut bukan dengan cara membakar petasan, bersukaria di tempat-tempat pesta maupun pesiar, makan yang berlebihan, dan berlomba dalam hal kemewahan duniawi yang lebih terkesan konsumtif dan pleonastis (mubadzir) itu, tetapi ia harus disambut dengan mengagungkan asma Tuhan, mengumandangkan takbir, melaksanakan shalat 'Id yang khusyuk dan dengan khutbah yang menyeru manusia bertakwa, beramal membantu kaum melarat, utamanya dengan membayar zakat fitrah. Untuk lebih menyempurnakan suasana penyambutan hari raya (1 Syawal), maka sebelum datang menghadiri shalat 'Id, kita dianjurkan (sunnah) mandi dahulu, memakai pakaian yang baik lagi
bersih dan memakai wewangian.

Untuk lebih menciptakan suasana ukhuwah, maka ada beberapa bentuk tradisi khazanah Indonesia yang bermuatan ibadah yang masih perlu dipertahankan, seperti: tradisi ziarah ke makam guna mendoakan leluhur yang telah mendahului, tradisi berkunjung dari rumah ke rumah (silaturrahim), mengunjungi rumah fakir miskin dan yatim piatu dengan membawa sedekah, ber-halal bihalal, dan masih banyak lagi tradisi 1 Syawal yang positif dan bernilai ibadah yang masih perlu dipertahankan.

Halal bihalal

Di antara bentuk tradisi yang sarat akan muatan nilai ibadah adalah halal bihalal. Di dalam al-Quran maupun al-Sunnah, kita tidak menemukan suatu penjelasan tentang arti halal bihalal. Istilah tersebut memang khas Indonesia, bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan non-Indonesia, walaupun yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Secara definitif, istilah halal bihalal dapat memberikan tiga arti yang berbeda. Dari segi hukum, maka kata halal adalah lawan kata haram. Halal yang dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal, akan memberikan kesan bahwa dengan cara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dari segi linguistik, kata halal terambil dari akar kata halla atau halal yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai dengan rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain: menyelesaikan problem atau kesulitan, meluruskan benang kusut, mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu. Dengan demikian, makna halal bihalal dalam tinjauan ini seakan-akan kita menginginkan adanya sesuatu yang mengubah hubungan kita dari yang tadinya keruh menjadi jernih, dari yang beku menjadi cair, dan dari yang terikat
menjadi terlepas atau bebas, walaupun kesemua yang disebut di atas belum tentu haram.

Arti yang ketiga adalah dari tinjauan Qurani serta kesan-kesan penggunaan kata halal dalam Al-Quran. Dari segi ini, dapat disimpulkan bahwa halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Quran menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap muslim harus merupakan sesuatu
baik lagi menyenangkan.

Dari beberapa pengertian di atas, maka halal bihalal (silaturrahim) menuntut upaya maaf-memaafkan. Kata maaf, yang berasal dari Al-Qur'an al-'afwu, berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Artinya, bukanlah memaafkan namanya manakala masih tersisa bekas luka itu di hatinya, bila masih ada dendam yang membara.

Itu sebabnya - berdasarkan teks-teks keagamaan -, para pakar hukum menuntut dari seseorang yang memohon maaf dari orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya, baik berupa materi maupun immateri.

Secara praktis, hal itu memang akan sulit dilakukan oleh seseorang yang telah berbuat kesalahan. Artinya, manakala seseorang yang berbuat kesalahan itu telah menyampaikan kata maaf, mungkin bukannya maaf yang diterima, namun justru kemarahan dan putus hubungan. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah doa: "Ya Allah sesungguhnya aku memiliki dosa pada-Mu dan dosa yang kulakukan pada mahluk-Mu. Aku bermohon ya Allah agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan pada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan pada mahluk-Mu".

Sebenarnya, di dalam Al-Quran terdapat peringkat yang lebih tinggi dari al-'afwu, yakni al-safhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan dari sesuatu. Darinya dibentuk kata safhat yang berarti lembaran atau halaman, serta musafahat yang berarti berjabat tangan. Ini berarti, seseorang yang melakukan al-safhu, dituntut untuk "melapangkan dadanya" sehingga mampu menanggung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Menurut Al-Raghib Al-Asfahany - seorang pakar bahasa Arab dan Al-Quran -, bahwa al-safhu yang diilustrasikan dengan berjabat tangan itu "lebih tinggi nilainya" dari pada memaafkan. Agaknya benar juga pandangannya itu. Bukankah masih mungkin ada satu-dua titik yang sulit bersih pada lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus? Atau, bukankah lembaran yang telah ternodai walaupun telah bersih kembali tidak dapat sama dengan lembaran baru?

Karenanya, di hari Idul Fitri ini bukalah lembaran baru dan tutup lembaran lama. Wujudkan sikap ihsan, karena yang demikianlah yang paling disukai oleh Allah. Demikianlah, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1417 H.

(Drs Maksun Faiz, staf Pengajar pada Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo di Semarang, Jawa Tengah.)